Sebagaimana yang kita
ketahui bahwasanya manusia terlahir ke dunia atas kehendak Allah SWT sang
pencipta dengan melalui proses yang amat panjang. Dimulai dari pertemuan sel
sperma sang ayah dengan sel telur sang ibu di dalam rahim ibu. Kemudian
terbentuklah zigot, embrio hingga menjadi janin lalu Allah tiupkan ruh
kedalamnya sehingga ia hidup dan mengalami pertumbuhan. Kurang lebih sembilan
bulan lamanya ia dalam kandungan sang ibu, hingga saat yang
membahagiakan bagi sebuah keluarga pun tiba yakni kelahiran seorang bayi yang
di nanti.
Oke, tepatnya pada tanggal
03 Juni 1998, disaat negara api menyerang eh Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercinta ini
mengalami masa sulitnya yang kita kenal dengan krisis moneter, seorang bayi nan
cantik jelita terlahir kedunia dengan isak tangis yang seketika reda begitu adzan dengan suara khas indah sang ayah dilantunkan
ditelinga kanannya. Bayi itu diberi nama Siti Ainun Nadziroh.
Yeah, itulah namaku. Sejak kecil aku selalu
disapa dengan panggilan “Dziroh”. Aku tak pernah bertanya kenapa aku
dipanggil demikian lalu apa artinya dan mengapa aku diberi nama itu. Tahun demi
tahun berlalu hingga satu demi satu pertanyaan pun terjawab. Singkat cerita
ketika Ummi (panggilan yang berarti ibuku dalam bahasa Arab) mengandungku dan
menghadiri sebuah majlis ilmu, tampil lah seorang anak perempuan yang masih
dini usianya namun ia sangat terampil dan berani menunjukkan kebolehannya dalam
berpidato. Gadis kecil itu bernama Nadzirotul ‘ilmi, seketika Ummi mendapat sebuah
ilham untuk memberiku potongan nama dari nama gadis itu dengan harapan kelak aku
dapat tumbuh menjadi wanita yang cerdas, terampil dan berani. Aamiin.
Siti, mungkin sudah tidak
asing lagi dengan nama yang satu ini karena banyak sekali warga Indonesia yang menggunakan nama tersebut. Kita pun tahu bahwasanya wanita-wanita
pada jaman kenabian banyak yang menggunakannya, namun kabarnya saat ini nama
itu hanya boleh digunakan oleh para syarifah yakni wanita-wanita keturunan Rasulullah
SAW saja. Nama Siti yang disematkan pada namaku diartikan sebagai “wanita yang
mulia”.
Ainun adalah kata dari bahasa Arab
yang bermakna mata. Merupakan sebuah alat indera untuk melihat, dengan harapan
aku memiliki penglihatan yang tajam untuk menangkap dan memahami sesuatu serta melihat betapa indahnya alam semesta ciptaan Allah dan begitu agungnya Ia dengan
segala keagungan-Nya.
Nadziroh merupakan isim fa’il dari
kata “nazhoro-yanzhuru-nazhron.” yang memiliki arti orang yang memandang atau
melihat.
Jika disatukan, maka Siti Ainun
Nadziroh akan memiliki makna seorang wanita yang mulia dalam pandangan mata
setiap orang yang memandang dan mengenalnya dengan baik.
Nama adalah do’a, maka berilah
anak dan keturunan kita nama yang baik. Dan panggilah mereka dengan panggilan yang baik
pula. Potongan namaku yang ketiga (Nadziroh) tertulis dalam ayat suci Al-Qur’an
tepatnya pada surah Al-Qiyamah ayat 22-23 yang berbunyi :
وُجُوْهٌ يَّوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ ٢٢
اِلٰى رَبِّهَا نَّاضِرَةٌ ٢٣
"Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Memandang Tuhannya."
(QS. Al-Qiyamah Ayat 22-23)
Dunia hanyalah jembatan menuju negeri akhirat yang kekal abadi
selamanya, maka luruskan kembali segala niat amal perbuatan kita di
dunia ini. Apakah untuk mencari keridhaan Allah SWT semata? Atau untuk
yang lain? Atau untuk sesuatu yang bersifat duniawi?
Na'udzu billahi min dzalik.
Semoga Allah meridhoi kita tuk menggapai surga tertinggi yakni surga Firdaus, aamiin
Surga yang dapat memandang wajah Allah serta para Anbiya wal Mursalin.. Ini adalah bagian do’a terbesar yang orangtuaku harapkan, yakni dapat memandang wajah Allah kelak di akhirat, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.
Wallahu a’lam bisshowaab.

Komentar
Posting Komentar